Sejarah

Diprakarsai oleh Bapak Pendiri Indonesia Presiden Soekarno pada tahun 1962. Pertama kali diluncurkan pada tahun 1966 dengan nama InterContinental Bali Beach Hotel (BBIH), berganti nama menjadi Bali Beach Hotel, dikelola oleh PT. Hotel Indonesia International (HII) pada tahun 1979. Dibuka kembali pada tahun 1993 dengan nama baru The Grand Bali Beach. Setelah penggabungan PT Hotel Indonesia International dengan PT Natour diberi nama Inna Grand Bali Beach Hotel. Kemudian mengalami sedikit ubahan pada Grand Inna Bali Beach Hotel.

Kelahiran Kembali Sebuah Warisan

Bali Beach Hotel berdiri tegak sebagai penghormatan terhadap sejarah, merayakan akar visioner yang membentuk keramahtamahan Indonesia. Merangkul gaung dari masa lalu, cagar alam yang disayangi ini menyambut kebangkitan warisan yang kaya, jalinan benang warisan dan tradisi menjadi kemegahan yang diperbarui. Dengan dedikasinya untuk melestarikan esensi bapak pendirinya, destinasi ikonik ini dengan hangat menata kembali jiwa sejarahnya, mewariskan warisan abadi untuk generasi mendatang.

Penghargaan hidup terhadap kesatuan Indonesia dalam keberagaman, menumbuhkan lingkungan di mana sejarah berkembang, tradisi berkembang, dan para tamu menjadi bagian dari warisan abadi. Di setiap masa menginap, Anda tidak hanya menikmati kenyamanan akomodasi kami namun juga memulai perjalanan menawan melintasi waktu, pulang dengan tidak hanya membawa kenangan namun juga apresiasi mendalam terhadap warisan budaya Indonesia yang kaya dan dinamis

Bantuan Ruang Tunggu Soekarno

Relief ini menggambarkan kehidupan sehari-hari di Bali, dengan fokus utama pada Presiden Sukarno berdiri dan menggendong seorang anak laki-laki di tengah alam yang indah, dikelilingi oleh orang-orang yang sedang beraktivitas. Tampaknya Presiden secara simbolis menyampaikan harapan bagi masa depan Indonesia.

Sayangnya, bantuan tersebut masih belum lengkap akibat peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Jakarta, sehingga rencana tatahan bantuan terlihat di sekelilingnya. Menyusul kejadian tersebut, perwakilan pemerintahan Orde Baru menuntut penghapusan gambar Presiden agar dapat melanjutkan pendanaan proyek tersebut, namun Harijadi menolak. Akibatnya, pendanaan terhenti, dan Harijadi melanjutkan pekerjaan dengan biaya sendiri.

Relief yang terbuat dari batu andesit terbaik ini menjadi saksi penting perjalanan bangsa Indonesia dan ketahanan masyarakatnya.